Monday, November 26, 2012

7

Hujan itu bisa bikin kita hanyut, hanyut sama apa yang lagi terjadi. Kadang harus ngebedain mana angin hujan yang membawa ke hal yang berbau melankolis, atau ada juga angin yang protagonis, ngebawa kita sama kenangan yang baik. Tapi waktu aku hirup bau rumput dari anginnya, oh, ternyata angin melankolis yang datang.

"Kenapa kamu bisa tau kalau aku lagi ada masalah?"
"Karena aku bisa masuk ke duniamu lewat resapan dari nasalmu tadi."
"Hanya itu?"
"Raut wajahmu, aku selalu tahu mana yang sedang menutupi sesuatu. Kamu rindu seseorang?"
"Iya, sangat."
"Lalu kenapa tidak menghubunginya?"
"Sudah, lebih dari 5 kali, tapi nihil."
"Lalu kenapa tidak mencobanya lagi? Putus asa? Kamu tau dia sayang sama kamu tapi kenapa kamu ga berusaha lagi?"

Hujan ini terlalu ribut, terlalu bawel, tapi aku mungkin butuh dia disaat seperti ini, jadi kubiarkan saja ia bertanya terus walaupun dengan pertanyaan yang sedikit mengusik dan bikin risih. Akhirnya aku menjawab pertanyaannya.

"Aku takut dia makin marah."
"Marahnya dia ya karna sayang sama kamu, mana mungkin benci."
"Kalau aku bikin masalah besar kenapa nggak?"
"Kamu bakal gitu juga kalau dia ngelakuin hal yang sama?"
"Hmm, ntahlah.."
"Sinikel."

Kurang ajar sekali, batinku. Aku tau hujan bakal mendengar semua yang aku batinkan, tapi aku tak peduli.  Aku yakin dia ga bakal ngelakuin hal sejahat apapun padaku karena aku tau dia ga akan ngelakuin hal jahat yang bodoh padaku dan aku ga akan pernah bisa tahan sama raut mukanya yang lagi minta maaf, sendu. Aku berpikir sejenak lalu menyerang dengan sebuah pernyataan dengan sedikit berteriak, sudah tak tahan.

"Baru kali ini dia ga jawab telfon aku, ga balas sms aku kalau lagi marah, itu namanya ga benci?!"
"Dia butuh sendiri."
"Setuju, tapi aku ga bakal bisa tidur semalaman."
"Mengertilah, dia juga punya hak untuk menyendiri."
"Aku cuma ingin dia ga pernah kecewa gara-gara aku, kalau seperti ini jadinya mungkin lebih baik aku menyingkir saja."
"Selemah itukah kamu? Sadarlah, kamu lagi dibawa emosi yang memuncak minggu ini."
"Tapi ini sudah keterlaluan buatku, dulu kalau marah dan aku telpon dia tetap ngangkat walau jawabnya sinis, bukannya itu cukup membuktikan kalau aku emang harus vakum?"
"Belum, besok masih ada waktu buat menatap matanya lebih dalam."

Tersenyum, hal yang selalu dilakukan hujan. Bagaimanapun kondisinya, hujan bakal selalu memberi nasihat positif dalam hidup. Aku yang baru tersadar setelah sekian lama ia bertanya dengan pertanyaan konyolnya, akhirnya mengakui apa yang ingin kukatakan sebenarnya, sedari tadi, namun tadi aku belum percaya pada hujan.

"Hujan, aku sudah lama menangis...."
"Ah, aku sudah tau. Hirup anginku dan kau akan merasakan lembutnya rangkulanku."

0 comments:

Post a Comment